Selasa, 14 Agustus 2018

Dibuka Menguat, Rupiah Balik Anjlok ke Rp14.630 per Dolar AS

Dibuka Menguat, Rupiah Balik Anjlok ke Rp14.630 per Dolar AS


Sibray - Dilansir Dari Sibray News, Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp14.579 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Selasa (14/8). Posisi ini menguat 29 poin atau 0,19 persen dari penutupan kemarin, Senin (13/8) di posisi Rp14.608 per dolar AS.

Namun, hanya dalam hitungan menit, rupiah kembali melemah ke Rp14.615 per dolar AS, sehingga kini melemah 0,05 persen dari penutupan kemarin. Pada pukul 09.30 WIB, rupiah bahkan berada di posisi Rp14.630 per dolar AS.

Seperti halnya rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga tertahan di zona merah, seperti peso Filipina melemah 0,35 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,18 persen, yen Jepang minus 0,1 persen.

Kemudian, baht Thailand minus 0,02 persen, won Korea Selatan minus 0,01 persen, dan dolar Singapura minus 0,01 persen. Hanya dolar Hong Kong yang bergerak stagnan.

Berbeda dengan mata uang utama negara maju, dolar Australia dan dolar Kanada justru menguat hari ini, masing-masing 0,05 persen dan 0,06 persen dari dolar AS.

Namun, rubel Rusia melemah 0,22 persen, franc Swiss minus 0,05 persen, poundsterling Inggris minus 0,04 persen, dan euro Eropa minus 0,03 persen.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan kembali melemah pada hari ini hingga ke kisaran Rp14.622 per dolar AS.

Pasalnya, tekanan eksternal yang menguatkan dolar AS dan buruknya defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang mencapai 2,6 persen pada semester I 2018 masih membayangi rupiah.

Tekanan eksternal antara lain terjadi akibat krisis yang tengah melanda Turki. Usai diperdagangkan anjlok kemarin, lira Turki dibuka melemah tipisdi kisaran 6,88 lira per dolar AS.

Sementara sentimen baru yang cukup positif untuk mengangkat rupiah diperkirakan tidak ada pada hari ini. "Justru ada pemberitaan di mana pemerintah terlihat pusing dengan anomali pergerakan rupiah yang kian terdepresiasi, kian menambah sentimen negatif," katanya.