Sabtu, 04 Agustus 2018

Game Fortnite Tengah Viral, Orang Tua di AS Sampai Sewa Tutor Untuk Bantu Anak Tingkatkan Skill Main

Game Fortnite Tengah Viral, Orang Tua di AS Sampai Sewa Tutor Untuk Bantu Anak Tingkatkan Skill Main


Sibray - Bagi para penggemar game, nama Fortnite pasti tak terdengar asing lagi.

Permainan bergennre Battle Royal ini tengah digandrungi oleh masyarakat global dan mengalahkan pendahulunya yakni PlayerUnknown's Battlegrounds  (PUBG).

Saking viralnya, selebrasi khas permainan buatan Epic Games ini juga kerap diperagakan oleh para pemain bola dunia termasuk Antoine Griezmann dalam beberapa waktu terakhir.

Nah, bicara soal game-nya sendiri, Fortnite dimainkan oleh berbagai macam kalangan baik dari yang muda sampai yang sudah berkeluarga.

Saking seringnya dimainkan, beberapa orang tua di Amerika Serikat sampai menaruh perhatian khusus bagi sang anak yang kerap memainkan Fortnite.

Bukannya memarahi anak yang keranjingan dengan game seperti pada umumnya, beberapa orang tua di AS justru meminta anaknya lebih jago lagi bermain game khususnya Fortnite!

Ya, hal unik ini tengah viral dibicarakan di negeri Paman Sam beberapa waktu ini.

Hal ini terjadi pasca sejumlah orangtua rela merogoh kocek untuk membayar beberapa gamer sebagai tutor Fortnite untuk anak-anaknya.

Informasi ini pertama kali dikulik oleh Wall Street Journal beberapa waktu lalu setelah mewawancarai beberapa pihak.

Fenomena unik ini sendiri mulai mencuat melalui paparan pihak Game Sensei, perusahaan yang memberikan jasa 'bimbingan belajar' bagi para gamer.

Usut punya usut, kebanyakan klien dari Game Sensei adalah orang tua yang justru mendaftarkan sang anaknya untuk belajar main game.

Fakta ini dipaparkan oleh satu dari sekian banyak tutor yang diperkerjakan oleh Game Sensei seperti sosok berakun Convertible.

Digaji sebesar 10 dollar hingga 25 dollar per jam, pria yang juga memiliki karir sebagai salah satu punggawa tim e-sports di Amerika hingga Korea ini memiliki cukup banyak pengalaman melatih anak-anak.

Tiap sesinya, ia mematok 4 jam bagi kliennya untuk meningkatkan kualitas skill-nya dalam bermain game khususnya Fortnite.

"Dalam satu kali pertemuan dengan klien, biasanya saya melakukan analisa bersama terkait beberapa kelemahan klien, serta membantunya dengan data statistik dan ulasan yang mampu dipelajarinya untuk meningkatkan kemampuannya bermain Fortnite" ujar pria yang juga menjadi pelatih di Tim Fortnite bentukan Samsung.

"Dengan 4 jam dalam satu kali sesi itu, saya akan memberikan anda banyak tips dan trik untuk meningkatkan cara bermain dan komunisasi" imbuhnya.

Terkait klien-nya yang kebanyakan anak-anak, Wall Street Journal kemudian menelusuri salah satu pengguna jasa Game Sensei yakni Ally Hicks.

Ally Hicks adalah satu orang tua yang bergabung menjadi project manager dalam memperkenalkan Fortnite kepada anak-anak di lingkungannya.

Melansir dari WSJ, Ally mengatakan bahwa keahlian dalam bermain game khususnya Fortnite ternyata berpengaruh banyak kepada status sosial anak di ruang kelas.

Ally juga mengungkapkan bahwa ada beberapa anak yang bahkan terasingkan dari pergaulan karena permainan Fortnite-nya yang begitu buruk di antara teman-temannya.

Hal inilah yang membuat Ally juga ikut perhatian terhadap skill bermain anaknya yang kini berumur 10 tahun

"Tekanan pergaulan anak-anak jaman sekarang bukan sekedar mainnya saja, tapi tingkat kejagoannya juga.Anda tak bisa membayangkan betapa besarnya tekanan sosial yang harus dihadapi anak saya bila ia tak pandai bermain (Fortnite) ujarnya kepada WSJ.

Tak hanya masalah sosial di sekolah saja yang membuat banyak orang tua berminat mendaftarkan anaknya 'les bermain game', dewasa ini, banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat yang menawarkan beasiswa besar untuk para calon siswa yang memiliki prestasi di bidang game.

Salah satu tutor di Game Sensei seperti Luke Keller misalnya.

Keller menjelaskan bahwa makin banyak anak yang menggunakan jasanya karena pengalaman yang telah ia lalui sebelumnya.

Keller yang ahli dalam game  Overwatch,menceritakan dirinya pernah mendapatkan beasiswa sebesar 20 ribu dollar di kampusnya karena keahliannya bermain game.

Mendengar cerita dari para tutor dan orang tua yang menyekolahkan anaknya bermain game ini, sepertinya industri game sudah tak lepas ikatannya dengan dunia pendidikan di Amerika Serikat.